Yamaha Jupiter-Z, Ramuan Sederhana Dewa

Ada isu santer, Jupiter tunggangan Hendri yang finish ke-1 di race I dan runner-up di race II seri III IndoPrix di Sentul powernya paling rendah! Makanya, ‘Sang Dewa Road Race’ ogah mengujinya di atas mesin Dynotest. Gosipnya kunci kemenangan Hendri justru pada pilihan jalur balapnya.

Soal Hendri punya jalur beda, pasti. Di Sentul, tak jarang ia melintasi kerb, demi memangkas lintasan. Tapi, jika motor timnya kurang tenaga, mustahil! “Kalau tenaga rendah, nggak bisa lepas sendiri di Sentul. Kemarin superpole dapat grid satu dengan 1;59,3 detik,” bantah Hendri soal motor bikinan Rusdianto itu.

Hendri sendiri tidak banyak meminta pada mekaniknya yang biasa disapa Pak Endut itu. “Justru masukannya yang luar biasa. Dia seting di Mandala. Asal waktu di Mandala sudah baik, di Sentul cuma ubah sedikit-dikit,” jelas mekanik tim HRVRT-HBM KYT Racing itu.

Sedikit bicara spek Jupiter geberan Hendri, Endut banyak belajar dari spek Jupiter Z bikinan Swedia. Yang hebat justru bagaimana pemilik bengkel Pusaka di Yogya ini mempertahankan performanya.

Patokan kem tetap sama. Durasi dan lift tidak bergeser. Yang dimainkan hanya  LSA-nya. Jadi waktu buka-tutup klepnya saja yang beda,” beber pria yang bertubuh agak tambun itu.

LSA alias Lobe Separation Angle adalah sudut antar dua bubungan di kem. Di Sentul kemarin, Endut mematok LSA 106 derajat. Ini membuat power mesin tetap besar di putaran mesin tinggi. Power terasa pada rpm 9.000 hingga 14.000.

“Durasinya klep in buka di 30 derajat dan nutup di 59 derajat. Kalau klep eksos dipatok buka pada 60 derajat dan nutup di 29 derajat,” bilangnya.

Di wilayah kepala silinder, Endut tetap coba-coba mengatur kompresi di Sentul. Data saat latihan di Mandala Krida tidak dipakai. Di Sentul, seting dimulai dari kompresi tinggi, akhirnya ditemukan pasnya perbandingan 13,4 : 1.

“Lebih mudah dari kompresi tinggi. tinggal atur coakan di piston untuk nyari kompresi yang pas,” jujur Endut yang memakai piston Izumi berdiameter 55,25.

Kompresi segitu cukup memampat bahan bakar dari karburator Keihin PWK 28 yang dijejali main-jet 116 dan pilot-jet 60. Setelah yakin tenaga mesin mencukupi, sisanya tinggal tugas Hendri membuat mesin tahan. Sang Dewa harus memberitahun setelan yang tahan untuk bisa digeber sampai 12 putaran.

“Timing magnet diukur 12 derajat dari Titik Mati Atas (TMA). Cukup aman, mesin tidak cepat panas,” bilang Endut yang percaya pada pengapian dari Vortex.

Ramuan terakhir, Endut percayakan aliran gas buang pada knalpot AHM. Alasannya, mekanik Malaysia yang biasa main di sirkuit besar sukses dengan knalpot ini. “Tenaganya mengalir terus. Dan cepat melepas panas. Sesuai dengan kemauan Hendri,” pasti Rusdianto.

DATA MODIFIKASI
Ban  : IRC 166
Pelek : TDR 1.60-17
Intake manifold: TDR
Sproket : Sinnob 15/34
Sokbreker : YSS